UJIAN CINTA
Dalam sebuah ungkapan pernah kita dengar " malang tak bisa ditolak untung tak dapat diraih".Ibarat biduk yang ku arungi berdua sudah jauh meninggalkan dermaga, Riak gelombang dan juga batu karang cadas menghadang,juga teriknya mata hari di tengah samodra telah ku lapaui berdua. Kadang gelak tawa dan kadang ada gesekan kecil dalam mengayuh laju dan arah bidukpun terjadi, namun di rasa itu semua bagaikan selingan dan seni dalam sebuah perjalanan menuju pulau jndah di depan sana. Ketika laju perahuku hampir mencapai gisik pulau itu, tanpa adanya isarat ataupun tanda mebdadak pendamping setiaku terjatuh sakit, kontan saja sebagai nahkoda langkah pertama harus segera menyelamatkan pendamping perjalanan yang lagi lunglai. Kurengkuhnya, kupandangi raut mukanya yang sudah mulai ada tanda keriput, tangan dan jemarinya yang sudah agak kering berbeda dengan 35 tahun yang lalu. Yang ibarat buah buahan masih ranum, segar dan menggugah selera. Segera saja ku percepat laju bidukku tuk menepi mencarikan obat yang bisa memulihkan kesehatan pendamping setia yang sudah bertahun tahun tak henti hentinya mengawal, mendampingi dalam berlayar.
Tiga bulan pertama hanya di pembaringan, segala aktifitasnya hanya rasa iba dan kasihan yang selalu berkecamuk dalam hatiku. Setiap ku mendekati dan menatap wajahnya dalam hatiku berkata" engkau yang telah kuat dan rela mendampingiku dalam suka dan banyak duka dan tidak petnah menuntut apa yang aku tidak mampu menggapainya, serta kau wanita yang telah telaten membimbing mendidik dua putri putriku hingga mereka dewasa. Sehingga doaku yang ndak tetucap jauh dalam hatiku "Ya Allah kasihanilah ia, angkatlah penyakit yang sedang di deritanya" . Untaian doa itulah yang ku ucap, dalam setiap saat, juga kehati hatian ku dalam segala hal yang terus kujaga.
Entah katena apa setelah banyak saran dan krenah dari para teman yang merasa iba melihat keterpurukan itu, agar di beri ini dan itu, tentu saja di masa masa kalut dan blank itu, ada yang ku lakukan dengan nawaitu moga membawa kesembuhan. Ada teman yang menawarkan terapi, minum ramuan ini, ramuan itu, bahkan adik yang dari Kalimantan mengirimkan pasak bumi, bawang dayak dll. Pada saat yang sama pula tanpa sengaja juga kedatangan teman, dengan cerita yang sama bahwa suaminya juga baru saja menderita sakit yang sama, dengan mengkonsumsi zelner namanya yang di tawarkan itu, akhirnya bisa pulih seperti semula.
Lima bulan saat ini Alhamdulillah, sedikit demi sedikit dalam setiap harinya ada perkembangan menuju pemulihan, kata tetangga memang harus super sabar karena datangnya dengan perginya penyakit itu lama perginya. Memang betul demikian aku harus sabar dan sabar, yang akhirnya sekarang sudah bisa aktifitas untuk kebutuhannya sendiri, tanpa harus menunggu pertolongan anggota keluarga yang lainnya. Semangatlah dindaku kau pasti bisa sembuh hikmah pasti akan menghadiahimu, dan menghampirimu. Di kanan kiri kita masih banyak bunga warna warni yang semerbak mewangi menyambut mu, juga mengharap sep ercik air siraman dari tanganmu.
Ini bisa menjadi momentum indah, walau mungkin yang dulu itu di katakan cupar dan tabu. Merebus air, membuat bumbu, tanak nasi, mencuci bisa terlalui jadi media ilmu dan belajar tersendiri untukku dan si bungsu. Bagaikan seorang siswa jika tidak di uji bagai mana tahu kwalitas pengetahuannya. Inilah kehidupan suka dan duka milik kita, apa yang kita gandrungi mungkin itu belum tentu Allah senangi, mungkin juga apa yang kita benci itu yang Sllah senangi.
Ini ujian cinta kita moga anak cucu kita
selalu meneladaninya.
Sekian dulu
Sampai ada tulisan berikutnya.
Smg ibuk enggal saras nggih Bah,,amin
ReplyDeleteDan sedaya ttp diberikan kekuatan,keiklasan dan kesabaran...amin
Matursuwun Mbak, moga Allah mengabulkan doa njenengan.
ReplyDeleteSubhanalloh..merinding maos kisah cintanipun Abah Muselim bersama bu Nurul... Diberikan kekompakan sampai menua bersama. Dihadapi dengan cinta apapun tak ada pahitnya. Bahagia sll Abah...
ReplyDeletePak Nor, kapan memrogramkan tulisan lewat laptop. Q blm bisa lo.
ReplyDeleteKula nmbe saget Bah...
ReplyDeleteGrne P.nur...hege
Kula nmbe saget...gurune " Pak Nur " Bah Lim...hehe
ReplyDeleteMerinding bah...
ReplyDelete