SAMBAL CUKAK

                  oleh,  Mbah Liem. 
Tidak pernah terlepas dalam hatiku rasa syukur,  Allah telah mentaqdirkan hamba ini  sebagai orang Indonesia, maka setiap irama detak jantung ini seakan selalu ter iringi rasa syukur Alhamdulillah.Allah telah mentaqdirkankan hidup di negeri yang indah bagaikan hamparan pualam, gemah ripah loh jinawi, subur makmur kerto raharjo,  serba thukul kang tinandur. Bahkan kata Kosplus tongkat pun bisa berubah menjadi tanaman. 

Sejak kecil hingga dewasa aku hidup belum pernah bepergian atau menjelajah kemana mana, palung jauh ya cuma Blitar, Kediri, Trenggalek itu pun ketika aku sudah memasuki dunia kuliyah, karena sering diajak teman ber anjangsana. Bisa dikatakan katrok menurut istilah anak sekarang, atau dalam bahasa lain disebut nya sabane adoh pitik. Maklum saja memang kehidupan masa kecilku hingga bisa memasuki dunia kuliyah di IAIN Tulungagung, serba hidup dalam kekurangan, ikut ( ngenger)  dari orang ke orang yang lainnya. Hanya modal tekat dan ingin menggapai cita cita yang sejak kecil sudah ter impikan. 

Pada tahun 1986 bulannya September, setelah 40 hari usia pernikahanku,  Allah SWT, menganugerahkan rezki dengan mengangkat sebagai CPNS yang di tempatkan di Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso. Duh waktu itu rasa syukur dan dan bingung berkecamuk menjadi satu,   mana itu Bondowoso, akhirnya aku beli atlas,  untuk mengetahui mana arah dan letak kota Bondowoso,  yang di tunjuk dalam SK penempatan itu. 

Masih dalam suasana kemanten baru, rencana akan mencari kota yang kutuju itu, tidak mengajak istri,  maka ku katakan pada istri :"Dik?  besuk itu rencana aku akan mencari yang namanya SMPN Klabang Bondowoso ya?  sementara pean ndak usah ikut, sebagai pegawai yang baru biasanya belum langsung mendapat gaji, baru mendapat setelah dua bulan atau tiga bulan berikutnya. Ku pamiti seperti itu sambil mata yang berkaca kaca dia bilang :" Mas pokoke aku mati lan urip panggah ikut kesana. Ya sudah kalau begitu besuk kita berangkat jam 02.00 malam. 

Karena sebelumnya belum tahu kota mana mana, akhirnya pasrah saja naik Bus Harapan jaya, via Tulungagung Jember. Di sepanjang perjalanan tak henti hentinya bertanya pada kondektur, masih jauh Pak?  tanyaku pada kondektur, masih separuh perjalanan Mas?  sahutnya,  sudahlah pean nikmati dan tidur nanti kalau sudah nyampek terminal Jember saya bangunkan. Waktu itu jam tanganku sudah menunjukkan pukul 13.00. Sambil melihat hamparan sawah yang padinya sedang menguning, juga melewati Malang, Probolinggo, Lumajang, Klakah,  disitulah aku pertama bisa melihat ke elokan alam  Indonesia yang indah mempesona. 

Sekitar pukul 15.00 sampailah ke terminal bus Jember, kemudian oper bus lagi menuju Kota Bondowoso, sesampai Terminal Bondowoso ganti lagi colt jurusan Situbondo turun di lawangseketeng Klabang. Hari pada waktu itu sudah mulai gelap turun di pangkala ojek lawangseketeng, belum ada yang ku kenal, belum jelas yang ku tuju. Kemudian salah satu tukang ojek menghampiriku seraya bertanya " dengan logat madura karena hampir penduduk Bondowoso itu etnis Madura, " entara ke emma Pak?  toreh ngkok antar,  maaf saya ndak faham jawabku, kemudian dia pakai bahasa Indonesia " akan kemana Pak?  mari ku antar. Saya jawab " saya dari Tulungagung, ini istrisaya, saya berangkat tadi malam jam dua, karena menurut SK pengangkatan Guru Agama saya di tempatkan dSMPN Klabang. Beh area Pak Guru neka Pak semak smpna. Wah dia Pak Guru ia itu Pak dudah dekat smpnya. Dia menawarkan diantar ke rumah Pak Carik Blimbing, karena tukang ojeknya juga orang Blimbing. Kemudian sore menjelang malam itupun dua ojek mengantar ke Desa Blimbing, yang jaraknya dengan SMPN tadi yang di tunjukkan, kurang lebih 3km, dengan melewagti jalan yang meliuk liuk, kanan kiri pepohonan yang rindang, dan suara gemercik air sungai yang mengiringi. Jam 18.00 sampailah ke rumah Bapak Carik Blimbing. 

Hidup di tengah tengah masyarakat Blimbing Klabang, Bondowoso, yang etnis Madura lama lama aku dan istri merasa nyaman dan krasan, masyarakatnya gotongroyongnya masih kental, kultur budayanya masih di uri uri, apalagi Bapak Carik, dan Ibu serta putra putranya orangnya baik, dan krenah malah akhirnya aku dan istri disuruh menempati satu rumah yang masih kosong,  dan ku kontrakpun tidak boleh hanya suruh menempati cuma bayar listriknya. Enam tahun bisa menyatu dengan masyarakat dan mengeluarga dengan keluarga Bapak Carik, sampai anak pertamaku yang lahir disana di ramut bagaikan cucunya sendiri. 

Dari kehidupan baru itulah akhirnya ku bisa mengenal tradisi, dan aneka masakan madura  sambal ala madura yang sebelumnya belum ada di tempat asalku. Banyak diantaranya, sambal pao, yaitu sambal dari buah pelen, adalagi sambal acan,  yaitu sambal khusus trasi,  dan menurutku yang paling istimewa Sambal Cukak. 

Sambal cukak itu biasanya dikhususkan untuk " jejeruk e sabeh" yaitu salah satu tradisi syukuran kepada Allah SWT, dengan membawa makanan di sawah ketika menjelang padi akan di panen. Biasanya yang di bawa nasi putih, telor ayam yang di kukus,  urap urap,  dan syam yang di panggang ( ingkung. ) dan di sampingnya ada cobek dengan sambal cukaknya. Waw sungguh mantab di makan bareng bareng di sawah. 

Cara dan bahan sambal cokak sangat mudah dan sesderhana. 
1. Lemper
2. Hulek hulek
3. Beberapa lombok
4. Garam ( manut selera )
5. Tambah air 3 sendok. 
6. Cukak 1 sendok. 

Begitulah Sambal cukak, meski sudah pulang kampung sejak 1991 dulu,  setiap kerong ( kangen. ) dengan kehidupan di Bondowoso,  istriku selalu membuatkan sambal cukak.




              24 12 2020 hampir penghujung.                   2020.

Comments

Post a Comment