MASJIDKU
Oleh : mbah Liem
Kamis 17 Desember 2020 kemarin bertempat di Aula Gedung megah milik MWC NU Boyolangu, di lantai II telah berlangsung suatu " Pembinaan Pengurus tempat Ibadah Masjid dan Musolla " Tingkat Kabupaten Tulungagung. Pembinaan tersebut di hadiri oleh para Takmir Masjid dan Musolla se Kabupaten Tulungagung. Yang di prakarsai oleh kabag Kesra Pemetintah Daerah Kabupaten Tulungagung, bekerja sama dengan Kementerian Agama Kab Tulungagung.
Acara dimulai pukul 08.30 hingga pukul 12.00 wib. dengan di awali upacara ceremonial, pembacaan ayat suci Al-Quran, tawasul, dan pembacaan doa oleh panitia penyelenggara yang di pandegani oleh pengurus MWC NU Boyolangu.
Pembinaan siang itu dibagi menjadi dua seasion yakni opening ceremonial dan di teruskan materi kedua yaitu pembinaan kemasjidan oleh dua nara sumber, 1. Bapak H. suryani, M. Ag selaku kabag. Pendma di lingkungan Kemenag, sekaligus beliau juga ketua Tanfidiyah di MWCNU Boyolangu. 2. Bapak Burhan ketua LTMNU dari PC NU Tulungagung.
Dalam penyampaian materinya Bapak H. Suryani,M.Ag, secara lugas, tegas ceplas ceplos mengena dan tidak ketinggalan pula sesekali sering di bumbui jok jok yang bisa menarik para peserta pembinaan yang hadir, sehingga waktu satu setengah jam yang di sediakan panitia nyaris tidak terasa. Banyak hal yang menjadi paparannya dalam penyampaian materi pembinaan diantaranya keadaan Masjid dahulu dan Masjid sekarang, dan fenomenanya.
Masjid dahulu yaitu pada era rata rata para peserta masih kecil dulu, keadaan Masjid dan Musolla masih sangat sederhana bentuk fisik dan bangunannya, dindingnya masih dari anyaman bambu, bahkan bila ada yang sudah di kloneng, separo tembok bata separo dari anyaman bambu, itupun sudah termasuk wah atau hebat, plesternya masih terbuar dari semen dan bahkan semen bata merah. Namun demikian Masjid dan Musolla pada era itu, madjid pada umumnya sangat ramai menjadi tempat yang di senangi anak anak, dan bahkan tempst bermain, beraneka kesenangan anak, kelereng, kekehan ( gasing) .bahkan tidurpun juga di Masjid atau di Musolla nya itu.
Apalagi pada waktu bulan Romadon tiba, hampir sehatian menabuh beduk, dan berebut pemukul beduk merupakan kegembiraan tersendiri. Dan didukung pula dengan loyalnya bersedekah jamaah, pada waktu itu ketika skan berangkat tarawih pun juga membawakan jajan, dari hasil bumi ketela, kadang tape, kulak, dan setelah tarawih dimakan bersama - sama. Apalagi kalau datang maleman, malam lailatul qodar pasti bsnyak ambengan yang di bawa ke Masjid/ Musolla itu sangat di tunggu tunggu snsk anak dan para jamaah.
Ini salahsatu contoh langgar thn. 80an.
Terus menurut pemapaparan beliau, kalau era atau zaman kita waktu kecil dahulu, dalam satu kampung atau Desa jumlah Masjid atau Musolla itu, masih mudah dan bisa di hitung dengan jari paling satu dua, dalam satu kampung. Namun sekarang berapa jumlah Masjid dan Musolla, bertambah banyak hingga satu Desa bisa lebih dari sepuluh bahkan lebih jumlahnya.
Namun yang membedakan antara dulu dan sekarang, kalau dulu hampir setiap Masjid Musolla selalu penuh jamaahnya, bila kita amati dengan keadaan sekarang ,bisa dikatakan sangat memprihatinkan atau kurang mendapatkan minat para jamaah. Alias hampir semuanya terlihat sepi.
Mengapa keberadaan Masjid dan Musolla, kini bisa dikatakan sepi atau dengan kata lain kurang mendapatkan melimpahnya jamaah sholat pada solat solat fardu dari jamaah. Hal ini diungkapkan oleh beliau diantaranya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab:
1. Kurang ada nya kontrol pemasukan sumberdana ketika wktu membangun Madjid/ Musolla, jadi faktor kebetkahan dari asal muasal dana pun sedikit banyak bisa berpengaruh.
2. Masjid masa kini rata rata exlusif, dengan dibangun pagar, dan bahkan terkunci usai kegiatan sholat.
3. Kalah menarik dengan acara yang ada di luar Msdjid seperti acara seriak TV, tempat bilyart, dan bahkan warung kopi.
4. Pihak Takmirnya yang kurang memenuhi apa yang di butuhkan jamash, dan masyarakat lingkungan yang ada.
5. Menejemen Masjid yang belum memadsi dengan kemajuan era nya.
6. Tranfsransi pelaporan hasil pengumpulan infak yang kadang belum mendapat perhstian.
Itu garis besar yang dapat penulis simpulkan dari msteri pembinaan dari nara sumber yang pertama.
Keudian pada seasion yang kedua Oleh ketua lembaga ta'mir Masjid yang disampaikan oleh Bapak Burhan. Yang pada intinya menggaris bawahi dengan apa yang disampsikan oleh pe mateti pertama, ia juga menekanan kan hal hal yang bersifat krorganisasian Madjid/ Musolla. Yaitu tentang SK ketakmiran, dan badan hukum tanah waqof Masjid/ Musolla nadzirnyasupaya secepatnya kepada nadzir Nahdlstul Ulama. Demikian agar semua Madjid terdata dan memiliki IMB.
( bersambung pada tulisan betikutnya) Ditulis Muslim Muridi LTMNU - MWCNU Boyolangu, 18112020..
Tulisannya abah...soyo.gurih...
ReplyDelete