JAMBU

Di suasana pagi yang redup, di karenakan semalam hujan gerimis hampir menghampiri sepanjang malam,  sehingga dipagi ketika aku duduk nyantai sambil menikmati hangatnya secangkir kopi dan sebatang rokok surya,  suasana masih terbawa udara gerimis semalam. Sehingga secangkir kopi dan sebatang cigarit yang setia dan pas menemaniku,  bagaikan penghipnotis yang bisa mengusir rasa dingin yang semilir. 

Sambil memandangi apa yang yang ada di teras rumahku, apa lagi kalau bukan burung burung piaraan,yang selalu di cantolkan sangkarnya di teras,   ada perkutut silang bangkok dua sangkar, puter pelong dua sangkar,  dan derkuku kelantan dua sangkar. Yang setiap detik memamerkan keahliannya masing masing dalam mengalunkan lagu dan iramanya ,  sehingga menambah suasana alami bagaikan memutar kembali kenangan masa kecil dulu ketika hidup di desa kecil yang jauh dari kota. 

Sesaat itu entah sambil agak melamun sekonyong pandanganku nanar,  ke arah sudut pojok halamanku,  kemudian ku dekati salah satu pohon kecil, oh... alhamdulillah gumamku,  pohon jambu kecil itu sudah mengeluarkan buah,  entah sudah berapa hari buah itu di besarkan,  karena hampir tidak terlihat karena posisinya agak terhalang oleh pohon cikal yang daunnya sangat rimbun. 

Jambu kecilku yang sudah menghadiah buahnya itu merupakan hadiah atau pemberian sahabat Imam Masngudi dari Betak Kalidawir,  yang pada waktu itu ia menghadiri rapat di sekretariat PC.  Pergunu , untuk mensukseskan acara Seminar penguatan Aswaja. Ketika dia akan pulang saya lihat di dalam mobilnya ada banyak benih pepohonan. Kemudian saya nyletuk :" itu pohon apa Pak Imam?  Ya.. macam macam ada blimbing,  mangga, nangka, dan ada lagi benih matoa, begitu jawabnya,   Pak Lim ingin nanam apa gimana...?  begitu yang ku dengar  sahut beliaunya. Akhirnya kudekati dan langsung ku buka pintu belakang mobil nya. Waw ya agak bingung juga memilihnya karna bagus bagus semua. Kemudian saya putuskan ada satu batang agak kecil tapi sudah membawa kelopak bunga, akhirnya kusunting dan ku turunkan pohon Jambu itu  dari mobil. Dan sekarang sudah berbuah,  juga menghiasi pojok halaman rumahku. 
 
Kuambil dengan sepontan saja yang pohon jambu, terbersit olehku karena diantara benih benih pohon yang ada dalam mobil itu,  jambulah yang banyak membawa kenangan, seakan menghidupkan sofwet rekaman pengalaman pada waktu masihkecil. 

Dimasa masa ku masih kecil dulu yang namanya buah jambu adalah salah satu diantara buah yang sangat faforit. Kebanyakan anak anak seusiaku pada waktu itu rata rata anak anak yang serba kurang. Kurang asupan gisi yang mencukupi, makan pun jarang rutin tiga kali sehari. Kurang perhatian dari orang tua, orang tua didesaku hsrus kerja keras membanting tulang untuk sebush kehidupan keluarga,  yang mayoritas hampir semuanya keluarga besar, anak 10 anak sembilan itu lumrah karena juga belum ada program KB,  dan jarang adanya hiburan di tambah lagi penerangan llistrik belum ada. 

Masih teringat  jelas di ingatanku, ketika langgar itu dijadikan tempat ngaji, jamaah,  dan juga di jadikan tempat tidur setiap malamnya tanpa ada kontrol dari orang tua,  sehingga anak anak sebayaku bebas ber expresi baik yang positif maupun yang negatif. Seiring rata rata dalam hal makan memakan kurang,  sehingga tidak jarang ketika malam mencuri jambu milik tetangga langgar. 

Mungkin juga karena jengkelnya si empunya pohon jambu,  mengapa brongsongan jambu ( kalau jaman dulu menggunakan kapasnya kelapa)  stiap malam kok hilang isinya kopong. Karna seringnya jambu yang sudah di brongsong hilang, pada suatu malam yang punya pohon jambu nyanggong di tempat yang sunyi,  yang tidak di ketahui anak anak langgar. Entah dah berapa lama ia menyanggongnya , betul juga malam itu anak anak seperti biasa tanpa curiga bahwa disudut sana ada sepasang mata yang lagi mengintai ia berebut memanjat pohon. Wau.... Semua kantong saku sudah penuh,  dan bahkan ada yang di masukkan sarung. Sesaat kemudian betapa terkejutnya tahu tahu Pak Karmin yang punya pohon jambu sudah berada di bawah pohon. Dengan suara setengah membentak hayyoooo medun....!!. Setelah gupuh sampai ada yang keplurut setelah berjajar tentunya pucat ndredek semua,  dari ujung utara sampai selatan enam orang anak plaaak!...plaaak...!!  Semua rata dan adil tetkena tamparan tangan kosong. 
 ( tunggu kisah betikutnya,  10-11-2020 )
                      @ Koong Liem @





Comments

  1. Syahdu... Jambu yg genjah..segenjah mbah lie dlm menulis..

    ReplyDelete

Post a Comment